BlankOn 2.0 Konde di Asus A9rp

December 9th, 2007 by prasetia

Well, dua minggu lalu … kiriman 2 CD Gutsy Gibbon dari Shipit nyampe ke rumah dengan selamat. Seneng sekaligus sedikit nervous … kapan mau dieksekusi nih? Sebenarnya, Festy Fawn sudah cukup stabil dan sangat customize di notebook Asus A9rp dan PC rumah. Upgrade berarti re-customize :-(

Malam itu juga gw order Gutsy repository DVD dan BlankOn installer via toko Baliwae Online. Sekitar 4 hari kemudian, kiriman datang dengan selamat. Berarti logistik sudah siap nih. Tinggal cari hari baek …. hehe

Pas jalan2 ke e-center Lippo Karawaci, kok nemu Windows XP Black Edition (off-course bajakan … kan untuk testing, hehe). Eh, perlu dicoba rasanya. Bosen dengan tampilan Windows XP biasa nih. Nah, week-end minggu lalu akhirnya dikuatkan hati untuk melakukan install dan format ulang notebook Asus A9rp gw. Setelah backup data2 yang dipandang perlu, proses instalasi Windows XP Black Ed. dilakukan. Ini berarti akan memformat ulang partisi dan menghapus GRUB dimana Feisty gw berada.

Beberapa saat kemudian, Windows XP Black Edition sudah bertengger gagah di Asus gw. Not bad … Vista desktop look-alike. Tapi ya gitu, jadi agak lelet … well, sudah diniatin kok. Tahap berikut, menaikkan Gutsy! Gw sengaja pilih fresh install untuk minimize problem.

Proses instalasi lancar, tapi pas reboot, lho … kok blank? Gw ngga dapet splash screen nih. Coba edit xorg.conf-nya tapi gagal. Wah, kok bisa? Baru kali ini nih rilis Ubuntu bereaksi seperti ini di Asus gw :-( Mulai panik nih …

Akhirnya, plan B harus dilakukan. Meski sudah dapet Open Suse 10.3 dan Mandriva 2008 dari InfoLinux, tapi gw sudah putuskan Ubuntu yang harus nangkring di Asus gw. Nah, BlankOn … saatnya kamu buktikan kehebatanmu!

Masukin CD, trus reformat partisi dan install … masukin informasi yang dibutuhkan, selesai dan … restart. Eh, masuk …. BlankOn BERHASIL nangkring!!!! Tapi ada masalah kecil, gw ngga berhasil add repo DVD Gutsy-nya. Yo wis lah … nanti dipelajari. Yang penting Asus sudah bisa dipakai dulu.

Dengan ‘meminjam’ koneksi network kantor, kustomisasi BlankOn pun dilakukan. Pertama2 Thunderbird mail-client, NTFS configuration tool (untuk baca tulis NTFS), gftp, wine, virtual
box dan tentu saja … mengaktifkan 3D efek. Serunya, BlankOn yang merupakan distro turunan Gutsy Gibbon lebih friendly pada Asus gw. Kalo dulu, Feisty hanya mampu menampilkan efek 2D, di BlankOn, Compiz-Fusion bisa berjalan amat baik.

Puas nih …

Myblankon

Megadeth Live in Jakarta!

November 13th, 2007 by prasetia

Kalo disuruh pilih antara Megadeth dan JakJazz 2007, dengan pertimbangan budget dan "kemudhengan" lagu … gw pilih Megadeth!!! hehe, sori, bos Reza :-)

Berangkat nekat sendirian, hanya berbekal kaos item DT "Train of Thought" -meski ngga nyambung, lha wong konser Megadeth, hehe- gw jalan ke Senayan. Demi keamanan, kendaraan di tinggal di Kantor. Sempet dag-dig-dug juga sih, bakal hujan ngga ya? soalnya dari siang sampai sore Jakarta diguyur hujan deres! Kerusuhan? hmmm … ngga lah yau, hari geneee lebih beresiko nonton Ungu daripada Megadeth :-DDD

Sampai lokasi, sempet ketemu rekan2 M-Claro bentar. Dua hal yang gw perhatikan ketika nonton konser adalah:
1. T-shirt Metal –> semakin langka orang yang punya, semakin keren, dan of-course …
2. Cewe2 . Heheh

Masuk ke dalam, berhubung budget hanya kelas festival, langsung cari lokasi yang dipandang cocok. Ngga terlalu deket (brisik, mann) atau terlalu jauh. Celingak-celinguk barangkali ada yang kenal, eh, pada berdiri jauh2an. Yo wis, sendiri aja.

Pas, maen, penonton makin merangsek maju. Alhasil, gw semakin terdesak ke belakang. Damn, gw benci banget jadi orang pendek. Anak sekarang tinggi2 bo! Gw harus ‘jinjit’ dan "akrobat" agar bisa liat leluasa gaya David Mustaine. Oya, satu lagi, pesen gw buat kalian-kalian, kalo lagi nonton konser -apalagi di kelas festival- jangan pernah mondar-mandir ya … ngganggu banget! Don’t do it ya!

Gw ngga familiar dengan semua lagu2 Megadeth. Gw cuma ngikuti Megadeth jaman Marty Friedman. Tapi, gw enjoy banget sama tontonan ini, meski sound systemnya parah banget. Suara si Dave ngga kedengeran sama sekali. Secara overall, rapi dan TOP!

Yang gw heran, pas di depan gw ada ce keren yang begitu "Holy War" dimainkan langsung histeris dan nyanyi dari awal sampai akhir. Ya, nyanyi !!!

Duh, ce sekarang :-)

SOCIAL ENGINEERING, APA ITU?

September 23rd, 2007 by prasetia

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Saya
berpendapat setiap pengguna komputer perlu mengenal istilah ini
dikarenakan tehnik ini sedemikian mudahnya dan memiliki kemungkinan
tinggi untuk terjadi pada diri kita. Meski istilah ini dipakai di
dunia keamanan komputer, tapi IMHO, istilah ini dapat juga
diaplikasikan secara luas di kehidupan sehari-hari. Coba, apakah Anda
pernah melakukan validasi balik ketika Anda ditelepon oleh seorang
yang mengaku sebagai petugas call center sebuah bank terkemuka?
Apakah Anda percaya saja dengan apapun yang ia katakan, termasuk
memberikan data-data pribadi ataupun perbankan Anda?

 

Dalam
dunia keamanan komputer, istilah social engineering dapat
diartikan sebagai tehnik/trik yang dipergunakan oleh “hacker”
(ijinkan saya pakai istilah ini saja, demi kemudahan, meski mungkin
istilah ‘cracker’ lebih tepat dipakai) untuk memanipulasi korban
untuk melakukan tindakan tertentu atau ‘membocorkan’ informasi
tertentu. Tehnik ini tidak mempergunakan ketrampilan programming
ataupun coding khusus, melainkan hanya dengan kelihaian
mempengaruhi korbannya. Dalam kebanyakan kasus (meski tidak semua),
biasanya si hacker tidak pernah bertatap muka dengan korbannya.

 

Tehnik
ini dipopulerkan oleh seorang konsultan keamanan komputer yang
bernama Kevin Mitnick (belakangan dia dikenal sebagai “Bapak”
para Hacker). Menariknya, tehnik ini memanfaatkan kelemahan manusia
sebagai makhluk sosial dan sebagai pengguna sistem komputer dimana
lebih mudah untuk memperdaya si pemilik sistem untuk menyerahkan
passwordnya ketimbang harus melakukan hacking langsung ke sistem.
Tehnik ini juga membuktikan
bahwa pengguna komputer adalah titik terlemah pada keamanan sistem
komputer!

 

Beberapa
tehnik social engineering adalah:

  1. Pretexting
    -biasanya dilakukan via telepon
    seperti yang sering kita lihat di
    televisi, dimana hacker menelepon korban dan berpura-pura menjadi
    seseorang -misalnya polisi, petugas call center bank- untuk
    mendapatkan informasi penting seseorang, misalnya: tanggal lahir,
    informasi mengenai kartu kredit dan perbankan, dll.

  2. Phising
    Apabila
    Anda menerima sebuah email yang kelihatannya resmi dari sebuah
    institusi perbankan ternama, dan meminta Anda untuk melakukan
    validasi rekening dengan memasukkan nama, nomor rekening, user ID
    dan password internet banking Anda, maka sebaiknya Anda berpikir dua
    kali apakah email tersebut benar-benar berasal dari institusi
    perbankan tersebut.

  3. Trojan
    Horse

    Yup, Anda benar! istilah ini memang berasal dari cerita
    kuda Troya yang terkenal itu. Bisa datang kepada Anda dalam bentuk
    email attachment yang menjanjikan screensaver
    gadis-gadis sexy ataupun diberi nama yang menarik yang dapat
    menggoda Anda untuk meng-klik-nya. Padahal dibalik itu, attachment
    itu berisikan program jahat yang sering disebut juga sebagai
    ‘malware’ (malicious software) dan bertugas untuk -misalnya-
    mengumpulkan informasi penting yang ada di PC Anda untuk dikirimkan
    kembali ke si pembuatnya ataupun program kecil yang senantiasa aktif
    ketika Anda menghidupkan sistem Anda sehingga si pembuatnya dapat
    melakukan kendali jarak jauh dari rumahnya!

  4. Quid
    pro Quo
    – something for something
    Barter! Sebuah survey
    yang dilakukan di tahun 2003 mengejutkan banyak orang ketika
    menyatakan bahwa 90% karyawan yang berada di luar kantor bersedia
    menyebutkan passwordnya demi sebuah ballpoin murahan.

 

Intinya,
inilah langkah pertama yang diambil oleh seorang hacker ketika akan
membobol sistem/PC Anda. Mudah dan murah! Beberapa hal yang bisa saya
anjurkan untuk mengurangi risiko menjadi korban social engineering
adalah:

 

  1. Senantiasa
    waspada ketika seseorang menanyakan hal-hal yang bersifat rahasia
    atau tidak biasa kepada Anda. Mending Anda melakukan konfirmasi
    balik sebelum menjawab pertanyaan tersebut.

  2. Hati-hati
    ketika membuka email dari seseorang yang tidak Anda kenal. Apalagi
    bila terdapat attachment di dalamnya.

  3. Hati-hati
    ketika melakukan browsing, pergunakan browser yang aman. Trojan
    horse bisa saja ter-download tanpa Anda sadari. Saat ini browser
    telah dilengkapi dengan anti-phising untuk melindungi Anda dari
    risiko itu. Makanya, update browser Anda.

  4. Rajin-rajin
    scan PC Anda dengan Anti Virus dan Anti Spyware. Siapa tahu ada
    malware yang tersembunyi di PC Anda!

 

 

 

—–

 

 

 

UBUNTU DISTRO-KU !

July 29th, 2007 by prasetia

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Setelah berbulan-bulan mencoba berbagai
distro linux, akhirnya gw jatuhkan juga pilihan kepada UBUNTU sebagai
distro yang akhirnya menghiasi notebook di kantor (Ubuntu 6.10 edgy),
PC rumah (Ubuntu 7.04 feisty fawn) dan notebook pribadi (juga Ubuntu
7.04 feisty fawn). Sayangnya, kesemuanya masih bersanding mesra
dengan Windows XP SP2 dengan alasan masing-masing.

Perkenalan Pertama dengan Linux

Linux pertama yang gw beli dan install
adalah Red Hat 9 yang diinstall pada salah satu PC testing di kantor.
Saat itu gw perlu untuk testing instalasi intranet dengan
mempergunakan LAMP (linux apache, mysql dan php) dan CMS Mambo.
Instalasinya relatif mudah, tanpa banyak masalah. Sejujurnya gw kaget
karena ngga ngira tampilan linux masa kini sudah jauh berbeda dengan
pertama kali gw coba install linux pada awal tahun 2000an. Cakep
banget. Tapi, permasalahan baru muncul saat Red Hat versi ini tidak
berhasil mendeteksi secara otomatis usb-flash disk yang gw colokin !

Jangan ketawa ya! Sebagai newbie di
linux, gw harus spend 2 hari kerja hanya untuk bisa baca file-file
yang ada di usb flash disk gw!! Ngga lucu kan???  Good thing about it
adalah kejadian ini memperkenalkan gw pada distro lain yaitu Mandrake
Powerpack 10.

Tak ada alasan khusus ketika membeli
Mandrake Powerpack ini kecuali warna covernya yang biru, hehehe. Iya,
gw datang ke toko software (iya … iya, bajakan) dan tanya dia punya
linux apa aja. Gw dikasih katalog. Wuih, asli … ngga ngerti. Sempet
bingung antara Open Suse atau Mandrake, tapi karena gw suka warna
biru, maka pilihan jatuh ke Mandrake! simpel kan :-)

Instalasi lancar, tinggal ngikutin
wizard dan terpampanglah Mandrake 10. Yang mengejutkan, usb flash
disk dapat langsung di mount dan siap diakses! Btw, project LAMP gw
berhasil dan sukses dengan distro ini. Keberhasilan ini membuat gw
semakin tertarik pada linux, dan membuat gw mencari distro-distro
lain untuk dijajal.

Distro lain yang sempat terinstall juga
adalah Open Suse 10.1 dari bonus DVD majalah INFO LINUX. Distro ini
sempat lama juga bersanding dengan Windows XP SP2 di notebook kantor.
Alasan keputusan untuk “menurunkan” distro ini sebenarnya cukup
sepele. Somehow, ngga tau kenapa, tiba-tiba gw gagal mengakses shared
folder yang ada di jaringan kantor. Setelah dicoba kutak-katik dan
tidak berhasil akhirnya terpaksa distro ini lengser dan diganti
dengan Mandriva 2005 Powerpack +!

Berbarengan dengan Open Suse yang
terinstall di notebook kantor, maka PC di rumah pun dipaksa untuk
‘dual-booting’ dengan Mandriva 2005. Microsoft masih dipertahankan
dengan alasan game anak-anak gw sudah terlanjur banyak terinstall di
PC itu. Dengan Mandriva, semua kebutuhan gw sudah terpenuhi. Desktop
menawan, user friendly, kelengkapan paket-paket aplikasi berbasis rpm
dan pendeteksian hardware yang cukup bagus. Modem lama gw (US
Robotics) langsung terdeteksi sehingga gw bisa online. Hello world!

Di PC rumah, Mandriva bertahan cukup
lama. Sempat pula diupgrade ke versi 2006, 2007 (Mandriva One) dan
terakhir 2007.1! Pada versi 2007 inilah, gw pertama kali berkenalan
dengan 3D desktop.  Saat itu, fitur 3D milik Vista (aero glass?)
sedang gencar dipromosikan. Di PC gw, fitur ini dapat langsung
berjalan mulus … Anak gw suka banget dengan elastisitas dan cube
desktop bawaan Mandriva 2007 ini. Sayangnya, ketika upgrade ke 2007.1
tiba-tiba fitur ini ngga jalan. Dia bilang sistemnya ngga support 3D.
What the ….. ???? Meski begitu tampilan desktop 2007.1 bisa
dibilang cantik dan support resolusi 1152×864 disamping tersedianya
software emulasi VMWare.

Fedora Core 5 dan IGOS Nusantara juga
sempat dicoba. Tapi ngga tau ya, rasanya ngga terlalu tertarik
sehingga ngga sempat lama bertahan di notebook kantor.

Sempet juga sih coba distro-distro lain
meski sekedar lewat Live CD seperti Simply MEPIS, Knoppix, Freespire,
dan lain-lain. Tapi buat gw, Mandriva masih jadi pilihan.

Perkenalan dengan Ubuntu

Boleh dibilang,
majalah INFO LINUX pulalah yang memperkenalkan gw ke distro ini.
Ketika mendapati bonus DVD bawaan majalah tidak bisa diakses, maka
sesuai prosedur gw kirim balik DVD itu ke redaksi majalah tersebut.
Beberapa minggu kemudian, DVD pengganti pun datang plus CD asli
Ubuntu 6.06! Ketika itu, hanya dicoba jalanin di live CD dan karena
belum terbiasa dengan distro yang berbasis debian terutama dengan
’sudo’ dan repository package-nya, maka Mandriva masih jadi pilihan
utama.

Ketika gw terpaksa
membeli notebook pribadi untuk mendukung mobilitas diluar kerjaan
kantor, maka ceritanya jadi lain. Dengan berbagai pertimbangan saat
itu, pilihan jatuh ke notebook Asus A9rp. Dalam bayangan, Windows XP
SP2 akan bersanding dengan Mandriva 2007. Tapi, kenyataan berkata
lain … Mandriva gagal diinstall di notebook ini. Notebook gw
bengong saat awal instalasi, not even masuk ke tampilan instalasi!
Berkali-kali dicoba, hasilnya tetep sama. Coba Fedora dan Open Suse,
instalasi berhasil tapi gagal masuk ke x server karena masalah vga.
Akhirnya, setelah googling sana sini, ternyata katanya (saat itu)
hanya Ubuntu dan Kubuntu yang bisa terinstall tanpa hambatan. Untung
gw punya Ubuntu 6.06 dari INFO LINUX. Dengan mengucap Bismillah gw
melakukan booting dan masuk ke live CD, eh, kok OK, langsung hajar
instalasi. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian Ubuntu langsung
mejeng dengan gagahnya di Asus gw. Minor problem untuk deteksi
internal modem dan wifi. Ok-lah …. yang penting ada linuxnya :-)

Maka, mau tak mau,
gw harus berusaha mempelajari Ubuntu. Semakin hari semakin familiar
dan rasanya kok makin asik. Ringan, lengkap, mudah dan ini yang
penting … komunitas dan supportnya aktif! 

Akhirnya 6.06
diganti dengan 6.10 baik di notebook kantor dan pribadi. Pelan tapi
pasti semua fungsi berhasil dijalankan satu per satu. Wine (untuk
emulator program yang jalan Microsoft Windows) dan Wifi berjalan
baik. Tinggal internal modem yang belum :-(

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Ketika
7.04 Feisty Fawn dirilis, gw ragu apakah akan upgrade atau tinggal
dulu di 6.10. Sampai akhirnya gw putuskan untuk mengganti 6.10 di
notebook Asus gw dengan Feisty Fawn. Modal nekat dan penasaran aja.
Hasilnya, sukses … tampilan Feisty Fawn lebih cakep dan yang
penting lagi sudah ada fitur Desktop Effect. Sayang vga ATI bawaan
Asus ini belum berhasil gw “3D-kan” sehingga kehebatan “3D”
belum bisa dirasakan di notebook ini.

Berbekal
nekat pula, semalam gw format partisi hard disk gw untuk mengganti
Mandriva 2007.1 Cooker dengan Feisty Fawn. Akhirnya terjadi juga ….
Alhamdulillah semua lancar. Bahkan, “Beryl” bisa jalan tanpa
hambatan di sini. Begitu juga “ntfs-3g” untuk baca tulis ke
partisi ntfs karena masih “dual-booting” dapat berfungsi tanpa
masalah. Yah … inilah distroku!

Ubuntuku_small

 

Ubuntu …

February 1st, 2007 by prasetia

Setelah mencoba macem2 distro dan gagal, akhirnya Ubuntu-lah yang berjodoh di notebook Asus gw. 

Mandrake 10/Mandriva 2006-2007 … bengong pas loading kernel

Suse 10.1 … sukses proses instalasi, tapi gagal load driver vga.

Fedora Core 5 … idem dengan Suse, gagal di driver vga

Yo wis, meski kurang familiar dengan debian, tapi rupanya takdir bicara lain.  Terpaksa harus familiar dengan "apt-get" dan "sudo" :-)

Tips: matikan dulu acpi (acpi=off), it worked for ubuntu but not for others. O ya, there must be a way to load/configure vga driver manually. Gw masih penasaran untuk bisa install Mandriva 2007 di notebook gw. PC di rumah sukses dengan Mandriva 2007 sampai sekarang.

Modem dan Wlan

Sampai sekarang, belum berhasil. Sudah coba ngikutin saran2 tapi mungkin karena gw dummy di linux makanya belum berhasil. Pas di’compile’ error mulu ;-) Belum sempat googling more sih … males. Akhirnya, kalo perlu networking pakai wifi/modem … ya XP SP2 yang bicara. Oya, terpaksa masih dual booting. Kalo problem modem dan wlan sudah teratasi, mungkin bisa bye-bye ama Mr. Bill Gates :-)

Expektasi ama linux community? Hardware supportnya donk … biar dummy kaya gw gak perlu puyeng compile ‘winmodem’. Hahaha ….

DT Show Reports di DetikCom

February 5th, 2006 by prasetia

DT Shows Reports on Detik.Com


Sabtu, 28/01/2006 07:37 WIB
Mengejar Dream TheaterMulai Hutang Kantor Sampai tinggalkan Istri Hamil
Puteri Fatia - detikHot

Penggemar Dream Theater (fta/hot)–>Singapura, Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina, kejarlah Dream Theater sampai ke Singapura. Mungkin itulah pepatah penggemar Dream Theater. Demi menonton grup ini ada penggemar yang sampai ngutang dulu. Waduh!Berbeda dengan konser Backstreet Boys yang digelar di tempat yang sama beberapa hari sebelumnya, ada yang berbeda dari konser Dream Theater. Aura persaudaraan dan satu tujuan terlihat dari penonton yang datang.

Penonton yang datang ke konser ini umumnya adalah penggemar setia yang hafal betul tentang grup ini. Tak hanya sekedar lirik, tapi juga fakta sampai cara memainkan lagu Dream Theater.Dream Theater tak hanya sekedar idola tapi panutan idealisme dalam bermusik. Kepiawaian para anggota yang dinilai para penggemar di atas rata-rata band lain menjadi salah satu hal yang paling menarik dari band ini.

"Dream Theater unggul banget dalam hal teknik, penguasaan instrumen, konsep musik maupun lirik," ujar Sigit, seorang penggemar asal Indonesia ketika ditemui wartawan detikhot Puteri Fatia di Singapore Indoor Stadium, Jumat (27/1/2006).Sigit adalah salah satu penggemar yang kecewa grup cadas ini batal main di Jakarta. Namun perjuangan menonton langsung Dream Theater tak berhenti sampai disitu saja. Jika bisa mengejar ke negeri seberang, kenapa tidak?Demikian juga dengan Ari, adik Sigit. Untuk menonton konser ini ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil menunggu di hotel.

Tak sedikit orang Indonesia yang ditemui di konser ini. Sebuah milis classic rock yang beranggotakan 500-an orang juga mengkordinir anggotanya untuk berangkat."Ada sekitar 30 orang dari kita yang berangkat. Tapi pisah-pisah," ujar Vivi, karyawan bank pemerintah yang menggunakan kaus bertuliskan ‘When Dream Theater and Indonesia Unite?"Kaus itu dibuat karena kekecewaan Dream Theater yang batal main di Indonesia. Mereka tetap berharap suatu saat grup pujaannya berani bertandang ke Indonesia.

Lain lagi kisahnya dengan Jack dan Walter. Dua bule asal Australia itu pergi dengan budget minim dan semangat tinggi. Keduanya mengaku telah menunggu selama 10 tahun untuk bisa menyaksikan langsung Dream Theater. Makan pas-pasan dan hidup secukupnya tak masalah demi menyaksikan langsung grup dengan hits ‘Octavarium’ itu.

Indra penggemar asal Padang juga punya cerita sendiri. Untuk menyaksikan band pujaannya, Indra naik bus ke Batam dan menyebrang ke Singapura. Di Singapore Indoor Stadium inilah dia baru membeli tiket pertunjukannya."Tak taulah bagaimana jika tiket habis. Sudah habis pula uang untuk pergi kesini," tutur Indra.Tentu tak sedikit uang yang dihabiskan untuk menonton pujaan secara langsung di depan mata. Setidaknya minimal Rp. 3,5 juta harus diperas dari kantong.Namun para penggemar tak kehilangan akal. Berhutang pun tak masalah. "Kasbon kantor dulu. Nanti potong gaji," jelas Agung karyawan sebuah Bank Swasta Asing. "Saya masih pinjam sama kakak," timpal Indra.

Salah satu penggemar yang patut diacungi jempol adalah Koji Muraya asal Jepang. Saking gila Dream Theater, Koji rela mengikuti rangkaian konser ‘20th Anniversary Tour’ dari Amerika, Canada, Korea, Jepang, hingga Singapura. Total, sudah 24 pertunjukan Dream Theater yang ia tonton.Namun pengorbanan tersebut sepertinya terbayar dengan setimpal. Semua keluar ruangan konser dengan senyum tersungging."Buat kita yang ngefans, ini seperti mimpi. Bisa ketemu langsung. Kadang masih nggak percaya kalau bisa nonton konser ini," imbuh Vivi semangat.

Ingin tahu seperti apa aksi-aksi mereka yang terekam dalam kamera. Simak foto-fotonya.

============
ket foto bareng m-claro abis concert, coba gw yang mana?

Dream Theater 20th Anniversary Concert

December 28th, 2005 by prasetia

hmmmm, lagi prepare buat nonton Dream Theater concert di singapore, 27 Januari 2006 nanti. Its really like a dream comes true ! 

I’ll post how the concert goes ….