UBUNTU DISTRO-KU !

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Setelah berbulan-bulan mencoba berbagai
distro linux, akhirnya gw jatuhkan juga pilihan kepada UBUNTU sebagai
distro yang akhirnya menghiasi notebook di kantor (Ubuntu 6.10 edgy),
PC rumah (Ubuntu 7.04 feisty fawn) dan notebook pribadi (juga Ubuntu
7.04 feisty fawn). Sayangnya, kesemuanya masih bersanding mesra
dengan Windows XP SP2 dengan alasan masing-masing.

Perkenalan Pertama dengan Linux

Linux pertama yang gw beli dan install
adalah Red Hat 9 yang diinstall pada salah satu PC testing di kantor.
Saat itu gw perlu untuk testing instalasi intranet dengan
mempergunakan LAMP (linux apache, mysql dan php) dan CMS Mambo.
Instalasinya relatif mudah, tanpa banyak masalah. Sejujurnya gw kaget
karena ngga ngira tampilan linux masa kini sudah jauh berbeda dengan
pertama kali gw coba install linux pada awal tahun 2000an. Cakep
banget. Tapi, permasalahan baru muncul saat Red Hat versi ini tidak
berhasil mendeteksi secara otomatis usb-flash disk yang gw colokin !

Jangan ketawa ya! Sebagai newbie di
linux, gw harus spend 2 hari kerja hanya untuk bisa baca file-file
yang ada di usb flash disk gw!! Ngga lucu kan???  Good thing about it
adalah kejadian ini memperkenalkan gw pada distro lain yaitu Mandrake
Powerpack 10.

Tak ada alasan khusus ketika membeli
Mandrake Powerpack ini kecuali warna covernya yang biru, hehehe. Iya,
gw datang ke toko software (iya … iya, bajakan) dan tanya dia punya
linux apa aja. Gw dikasih katalog. Wuih, asli … ngga ngerti. Sempet
bingung antara Open Suse atau Mandrake, tapi karena gw suka warna
biru, maka pilihan jatuh ke Mandrake! simpel kan :-)

Instalasi lancar, tinggal ngikutin
wizard dan terpampanglah Mandrake 10. Yang mengejutkan, usb flash
disk dapat langsung di mount dan siap diakses! Btw, project LAMP gw
berhasil dan sukses dengan distro ini. Keberhasilan ini membuat gw
semakin tertarik pada linux, dan membuat gw mencari distro-distro
lain untuk dijajal.

Distro lain yang sempat terinstall juga
adalah Open Suse 10.1 dari bonus DVD majalah INFO LINUX. Distro ini
sempat lama juga bersanding dengan Windows XP SP2 di notebook kantor.
Alasan keputusan untuk “menurunkan” distro ini sebenarnya cukup
sepele. Somehow, ngga tau kenapa, tiba-tiba gw gagal mengakses shared
folder yang ada di jaringan kantor. Setelah dicoba kutak-katik dan
tidak berhasil akhirnya terpaksa distro ini lengser dan diganti
dengan Mandriva 2005 Powerpack +!

Berbarengan dengan Open Suse yang
terinstall di notebook kantor, maka PC di rumah pun dipaksa untuk
‘dual-booting’ dengan Mandriva 2005. Microsoft masih dipertahankan
dengan alasan game anak-anak gw sudah terlanjur banyak terinstall di
PC itu. Dengan Mandriva, semua kebutuhan gw sudah terpenuhi. Desktop
menawan, user friendly, kelengkapan paket-paket aplikasi berbasis rpm
dan pendeteksian hardware yang cukup bagus. Modem lama gw (US
Robotics) langsung terdeteksi sehingga gw bisa online. Hello world!

Di PC rumah, Mandriva bertahan cukup
lama. Sempat pula diupgrade ke versi 2006, 2007 (Mandriva One) dan
terakhir 2007.1! Pada versi 2007 inilah, gw pertama kali berkenalan
dengan 3D desktop.  Saat itu, fitur 3D milik Vista (aero glass?)
sedang gencar dipromosikan. Di PC gw, fitur ini dapat langsung
berjalan mulus … Anak gw suka banget dengan elastisitas dan cube
desktop bawaan Mandriva 2007 ini. Sayangnya, ketika upgrade ke 2007.1
tiba-tiba fitur ini ngga jalan. Dia bilang sistemnya ngga support 3D.
What the ….. ???? Meski begitu tampilan desktop 2007.1 bisa
dibilang cantik dan support resolusi 1152×864 disamping tersedianya
software emulasi VMWare.

Fedora Core 5 dan IGOS Nusantara juga
sempat dicoba. Tapi ngga tau ya, rasanya ngga terlalu tertarik
sehingga ngga sempat lama bertahan di notebook kantor.

Sempet juga sih coba distro-distro lain
meski sekedar lewat Live CD seperti Simply MEPIS, Knoppix, Freespire,
dan lain-lain. Tapi buat gw, Mandriva masih jadi pilihan.

Perkenalan dengan Ubuntu

Boleh dibilang,
majalah INFO LINUX pulalah yang memperkenalkan gw ke distro ini.
Ketika mendapati bonus DVD bawaan majalah tidak bisa diakses, maka
sesuai prosedur gw kirim balik DVD itu ke redaksi majalah tersebut.
Beberapa minggu kemudian, DVD pengganti pun datang plus CD asli
Ubuntu 6.06! Ketika itu, hanya dicoba jalanin di live CD dan karena
belum terbiasa dengan distro yang berbasis debian terutama dengan
’sudo’ dan repository package-nya, maka Mandriva masih jadi pilihan
utama.

Ketika gw terpaksa
membeli notebook pribadi untuk mendukung mobilitas diluar kerjaan
kantor, maka ceritanya jadi lain. Dengan berbagai pertimbangan saat
itu, pilihan jatuh ke notebook Asus A9rp. Dalam bayangan, Windows XP
SP2 akan bersanding dengan Mandriva 2007. Tapi, kenyataan berkata
lain … Mandriva gagal diinstall di notebook ini. Notebook gw
bengong saat awal instalasi, not even masuk ke tampilan instalasi!
Berkali-kali dicoba, hasilnya tetep sama. Coba Fedora dan Open Suse,
instalasi berhasil tapi gagal masuk ke x server karena masalah vga.
Akhirnya, setelah googling sana sini, ternyata katanya (saat itu)
hanya Ubuntu dan Kubuntu yang bisa terinstall tanpa hambatan. Untung
gw punya Ubuntu 6.06 dari INFO LINUX. Dengan mengucap Bismillah gw
melakukan booting dan masuk ke live CD, eh, kok OK, langsung hajar
instalasi. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian Ubuntu langsung
mejeng dengan gagahnya di Asus gw. Minor problem untuk deteksi
internal modem dan wifi. Ok-lah …. yang penting ada linuxnya :-)

Maka, mau tak mau,
gw harus berusaha mempelajari Ubuntu. Semakin hari semakin familiar
dan rasanya kok makin asik. Ringan, lengkap, mudah dan ini yang
penting … komunitas dan supportnya aktif! 

Akhirnya 6.06
diganti dengan 6.10 baik di notebook kantor dan pribadi. Pelan tapi
pasti semua fungsi berhasil dijalankan satu per satu. Wine (untuk
emulator program yang jalan Microsoft Windows) dan Wifi berjalan
baik. Tinggal internal modem yang belum :-(

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Ketika
7.04 Feisty Fawn dirilis, gw ragu apakah akan upgrade atau tinggal
dulu di 6.10. Sampai akhirnya gw putuskan untuk mengganti 6.10 di
notebook Asus gw dengan Feisty Fawn. Modal nekat dan penasaran aja.
Hasilnya, sukses … tampilan Feisty Fawn lebih cakep dan yang
penting lagi sudah ada fitur Desktop Effect. Sayang vga ATI bawaan
Asus ini belum berhasil gw “3D-kan” sehingga kehebatan “3D”
belum bisa dirasakan di notebook ini.

Berbekal
nekat pula, semalam gw format partisi hard disk gw untuk mengganti
Mandriva 2007.1 Cooker dengan Feisty Fawn. Akhirnya terjadi juga ….
Alhamdulillah semua lancar. Bahkan, “Beryl” bisa jalan tanpa
hambatan di sini. Begitu juga “ntfs-3g” untuk baca tulis ke
partisi ntfs karena masih “dual-booting” dapat berfungsi tanpa
masalah. Yah … inilah distroku!

Ubuntuku_small

 

Leave a Reply