Pindah Rumah (Blog)
April 28th, 2008 by prasetiaResmi blog saya pindah ke http://kembars.wordpress.com. Lebih cepat dan fiturnya lebih lengkap.
Mampir ya …
Resmi blog saya pindah ke http://kembars.wordpress.com. Lebih cepat dan fiturnya lebih lengkap.
Mampir ya …
Akhirnya keinginan untuk nonton Duran-Duran live di Jakarta ngga bisa lagi terbendung …. ! Setelah seminggu bimbang apakah harga tiket Rp 750ribu worth untuk menonton Duran-Duran, ini yang namanya emosi mengalahkan rasio
Nyampe di venue sekitar jam 19.50, masih kepagian nih … mengingat show baru dimulai pukul 21.00. Beli tiket di ticket box, sementara banyak banget calo di luaran nawarin. Dengan harga lebih murah malah …. aneh ya, dari mana mereka dapat tiket?
Sambil nunggu teman di luar arena, gw asik memperhatikan calon penonton yang lalu lalang, kaum "snob" dan tentu saja: wartawan infotainment dan para celebrity yang saling berinteraksi. Sekilas ada Lilo ex KLA, Maia Ratu, pasangan Pongky Jikustik dan Sophie, Tika Panggabean dan Ujo, Wingky Wiryawan, Rahma Azhari, Radja, Farhan dan banyak lagi. Sebagian besar emang generasi 80’s ya … saat dimana Duran-Duran jadi raja. Bisa dipastikan, ini pasti konser nostalgia.
Masuk ke arena konser, lampu masih terang. Latar belakang panggung adalah set kota besar dengan bangunan-bangunan tinggi. Drum Roger Taylor di kiri belakang, dan Keyboard Set Nick Rhodes di sebelah kanan. Not bad! Persis di depan panggung berderet beberapa baris kursi VVIP, dan setelah pagar pembatas, berdiri penonton festival. Tribun atas diperuntukkan untuk kelas VIP.
Persis jam 21.00, lampu gedung dimatikan dan lampu sorot warna warni panggung dinyalakan, asap tipis memenuhi panggung. Sekilas siluet personel Duran-Duran nampak menaiki panggung dan memainkan "the valley". Penonton semua histeris!
Seperti saya bilang tadi, IMHO ini adalah konser nostalgia, dimana hampir seluruh penonton menunggu-nunggu dibawakannya hits-hits era 80an, makanya begitu lagu pertama selesai dan Simon teriak, "Are You hungry?" maka seketika penonton melompat dan berteriak,"Yes! Hungry Like the Wolf!".
Jadinya seperti sudah diduga, saat lagu-lagu seperti A View to A Kill, Save a Prayer, The Reflex, Union of the Snake, Girls on FIlm, Wild Boyz, Ordinary World, Rio dan lain-lain dibawakan, maka koor bareng sukar dielakkan dan JCC seketika menjadi dance-floor. Dan seketika adem ketika lagu-lagu baru (seperti the Valley, Red Carpet Massacre, Skin Divers, dll) dinyanyikan.
Hmm, overall, gw enjoy banget! Lagu-lagu baru Duran-Duran meski ngga 100% nyanthol di kuping, tapi tetap enak dibuat dance. Menikmati vocal Simon yang khas masih mampu menaiki nada-nada tinggi -meski beberapa kali sengaja diturunkan, gebukan drum Roger Taylor, gaya Nick Rhodes -yang oleh Simon di sebut orang planet karena peralatannya yang techie- rajin merekam ulah penonton dari belakang keyboards set dan bintang malam itu, John Taylor yang keren abis!
Worth it lah!
Karena kebetulan sedang di Jakarta bareng keluarga kok ndilalah kepikir ngajak anak-anak ke Planetarium Jakarta yang ada di TIM, Cikini. Sebenarnya bukan cuma anak-anak yang belum pernah ke sana, tapi saya dan istri pun belum pernah ke sana. Jaman pacaran dulu, kalau ke TIM, paling banter nonton film atau ke toko buku bekas di pojokan TIM itu.
Karena info mengenai jadwal pemutaran masih blank, maka hari Sabtu siang langsung go show. Sampai sana sekitar jam 2 siang. Ternyata di depan loket berjubel anak kecil plus orang tua masing-masing. Rupanya ada beberapa rombongan sekolah yang datang. Penuh banget, setelah coba antri, ternyata antrian itu untuk pemutaran jam 4 sore … yang jam 2.30 sudah abis! Waduh …. ngga ngira sepenuh itu. Setelah konfirmasi ke pak Satpam, dapet info kalo hari Minggu pun buka. Oya, planetarium hanya tutup hari Senin.
Besoknya jam 9 sudah antri di depan loket, meski ternyata sudah ada beberapa rombongan yang antri tapi kami masih kebagian yang jam 10.
Jam 9.30 pagi, kami dipersilakan masuk ke kubah planetarium tempat dimana film diputar. Sekali putar kubah planetarium muat untuk 320 penonton. Jadi lumayan gede. Kursinya reclining sehingga kita bisa melihat atap kubah yang melingkar itu sambil setengah tidur Pas jam 10, lampu gelap dan hup …. seluruh atap kubah berubah menjadi langit malam yang cerah dan berbintang-bintang! Seru juga nih …. pikir saya. Penonton yang 97% anak-anak SD pada tepok tangan …hihihi. Persis nonton layar tancep.
Topik film pagi itu adalah “Planet Biru Bumi”. Jadinya sesuai topik, maka film mostly bercerita tentang bumi, teori asal tata surya, rasi bintang-bintang, bumi bulat, lapisan bumi dan udara, dll. Durasi sekitar 1 jam.
Overall kesan saya, filmnya kuno banget. Perlu polesan dengan teknologi dan tambahan tema nih. Terlalu banyak statistik yang IMHO kurang menarik ….
Ehm, terus terang ekspektasi saya sedikit ketinggian. Saya berharap bakal bisa banyak dibahas tata surya dan planet-planet. Well, again … what do you expect untuk harga tiket Rp 7000 (dewasa) dan Rp 3500 (anak-anak)?
Sedih ya punya rumah di pinggiran? Perjuangan untuk mendapatkan akses internet yang manusiawi aja begitu panjang ….
Sebagian besar interaksi saya dengan internet memang saya lakukan di kantor. Akan tetapi, ternyata ketergantungan saya dengan media satu ini sudah di level yang tinggi (meski belum dibilang "addicted"). Apalagi sejak saya kenal dengan dunia security dan linux.
Selama ini saya pakai koneksi dialup. Tapi belakangan, saya rasa koneksinya makin lama makin lambat. Apalagi subcribtion saya diberbagai milis membuat mailbox saya rata-rata menerima 200-300 email per hari (engga … engga semua kebaca kok). Akhirnya saya putuskan untuk upgrade ke koneksi yang lebih cepat.
Pilihan pertama tentu speedy. Tapi apa daya, sampai dengan last minutes, berita buruk didapat bahwa cluster saya belum terjamah oleh jaringan speedy (huh, padahal saya pelanggan potensial!). Gagal dengan speedy, coba tanya-tanya ke First Media (FastNet) yang kebetulan kantor pusatnya di Lippo Karawaci. Eh, ternyata juga belum dicover. Pilihan terakhir adalah wireless connection. Sedihnya … 3G juga ngga masih kemahalan dan kualitasnya ngga digaransi.
AKhirnya, denger ada povider RT RW net di sekitar kompleks. Setelah testing, riset dikit dan banyak menimbang-nimbang … saya putuskan untuk gabung ke komunitas RT RW Net ini. Jadinya, week end kemarin, tower untuk wireless dipasang di atap rumah (untung bukan wajanholic, hehe). Akhirnya, koneksi internet 24 jam (64 kbps) tersedia di rumah dengan biaya relatif terjangkau ….
Dua hari ini mantengin internet untuk testing speed, yah … meski tidak secepat speedy atau broadband internet … tapi masih lumayan dibanding dialup. Cukup lah saat ini …
Ini hasil monitoring traffic dengan ntop di ubuntu gutsy 7.10. Lumayan lah.
PR berikutnya adalah sosialisasi ke istri dan anak tentang optimalisasi internet.
Tidak disangkal lagi, breakthrough teknologi yang dampaknya sampai mengubah pola komunikasi dan gaya hidup (di Indonesia) adalah … SMS! Mungkin si penemu malah ngga bakal nyangka kalo temuannya bisa jadi seperti sekarang ini. Kalau Anda amati, di Jakarta ini hampir jarang ditemui orang yang ngga pegang ha-pe, di mal, bis, halte, trotoar bahkan di sekolah dasar, almost everywhere… tapi, fitur yang paling sering dipakai adalah SMS! Selain hemat …. rata2 Rp 300 per sms, juga melatih kecepatan jari-jemari dan sekaligus olah raga jari
Saya tergelitik untuk menulis tentang ini karena kemarin saya mengalami hal yang menurut saya luar biasa. Seperti biasa saya pulang naik shuttle bis dan disebelah saya kebetulan (ya… beneran kebetulan, bukan cari-cari kesempatan) duduk seorang wanita muda dengan ha-pe di tangan. Tidak ada yang spesial dari dia (ehm, tapi manis juga sih) kecuali tatapan matanya yang menerawang keluar jendela bis sementara jari jemarinya dengan lincahnya memencet-mencet rangkaian kata via ha-pe-nya. Wuih, cepet sekali…. Sepanjang perjalanan, ia terus melakukan itu! Hebat!!!
Rekan sekantor saya (kebetulan juga wanita) punya kebiasaan yang hampir sama. Bahkan ia melakukannya sembari menyetir mobil di jalanan Jakarta yang ruwet ini. Meski menurut pengakuannya, mobilnya pernah "naek" ke trotoar akibat sibuk bales sms ketika nyetir. Berapa banyak Anda lihat wanita-wanita duduk di boncengan sepeda motor sibuk dengan ha-pe nya? Apa memang sudah dari sononya kaum wanita demen banget sama yang namanya ngobrol, jadinya sms jadi media yang murah meriah
Di ruang meeting, sms jadi media bergunjing yang paling aman. Kalau di suatu meeting tiba-tiba rekan-rekan Anda cekikikan tanpa sebab yang Anda tahu, berhati-hatilah, jangan-jangan Anda sedang dijadikan bahan gunjingan …
Ehm, satu lagi contoh bagus soal terobosan teknologi yang bisa mengubah perilaku!
sekedar sharing buat yang ngga tinggal di jakarta ….
Banjir
persis setahun dari banjir besar tahun lalu, ibukota kita ini
disinggahi banjir lagi. Bedanya, banjir sekarang karena drainase yang
jelek, bukan dari luapan sungai (baca: kiriman dari bogor). Tapi dampak
langsungnya buat saya sama, jalan pulang terputus, macet, sehingga
harus puter2 dulu sebelum bisa nyampe rumah.
Saya termasuk beruntung, karena tol dalam kota menuju Tomang praktis
ngga bisa dilewati, akhirnya cari tebengan sampai BSD JORR . Baru naek
taksi dari sana. Dari kantor jam 18.00, sampai BSD Junction jam 20.30.
Jauh lebih baek dibanding yang mau dan dari bandara … atau rekan
kantor saya yang terpaksa bermalam di hotel karena ngga bisa pulang.
Sekarang sudah surut …. tapi, see you next year!
Preman
Buat yang sering pakai jasa angkutan umum dan nunggu di halte pasti
familiar dengan yang namanya "timer". Itu lho yang sok jadi owner halte
bus dan sok membantu awak bis untuk menaikkan penumpang dan kemudian
minta kutipan sukarela dari awak bis. Belakangan ini, saya lebih sering
nunggu bis di halte Slipi Jaya, dan di sana ada 3 orang timer yang
saking seringnya ketemu, kita sampai "kenal muka" … hehe. Saya amati,
ternyata mereka hanya bermodal nekat dan gertak … sebab kalau awak
bus-nya berani pasang badan, mereka toh paling banter hanya teriak sok
ngancam … ngga lebih. Tapi kabarnya di "timer" di perempatan fly over
slipi lebih galak dari yang di Slipi Jaya.
Btw, perempatan bawah Fly Over Slipi tuh ruwet banget … ada PKL,
halte bus plus bus ngetem, lalin dari kiri mau ke kanan, dari kanan mau
ke kiri, dari timur mau ke barat, luar tol mau masuk tol, orang
nyebrang …. wis kumplit!
Pekerja "Suka-Ngga-Rela"
Banyaknya pengangguran membuat penduduk Jakarta harus "kreatif" buat
cari makan. Ya itu tadi, selain "timer" ada "Pak Ogah". Suatu ketika
saya sedang nemenin tamu -satu Aussie dan satu Singaporean- keliling
Jakarta pas jam 17.00 di puncak macetnya Jakarta.
Ketika mereka lihat polisi-polisi partikelir itu di bawah fly over Landmark:
Tamu: " Who are they? Baek bener ya mereka ngatur lalu lintas supaya lancar?"
Me: !@$!%$#!$
Jadi buat yang mau (atau berencana) pindah ke Jakarta … untuk masukan saja.
Kalau saya, sudah terlanjur …. hihihihihih
Setahun belakangan ini, komunitas IT dan pengguna internet di Indonesia agak ”terganggu” dengan dibentuknya sebuah lembaga monitoring traffic internet yang diberi nama ID-SIRTII oleh pemerintah. Kecurigaan yang sering muncul adalah bahwa ini adalah bentuk penyadapan yang ilakukan oleh pemerintah sehingga “mengancam” privacy pengguna internet.
Nah, Jum’at (4 Januari) malam lalu penulis berkesempatan menghadiri sebuah diskusi kecil yang diselenggarakan oleh Komunitas Keamanan Informasi (KKI) di sebuah kantor di seputaran Kuningan, Jakarta Selatan. Diskusi ini adalah salah satu agenda rutin komunitas ini (disebut sebagai Security Night), dimana topik pada malam itu adalah presentasi dan diskusi dari tim ID-SIRTII mengenai apa dan bagaimana cara kerja ID-SIRTII. Presentasi dibawakan sendiri oleh Dr. Richardus Eko Indrajit, MSc, MBA dan Muhammad Salahuddien Manggalanny sebagai ketua pelaksana dan wakil ketua ID –SIRTII. (http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=815). Diskusi itu sendiri berlangsung dalam suasana informal, sopan dan hangat.
Beberapa hal yang berhasil saya catat dalam diskusi tersebut adalah:
1. ID-SIRTII dibentuk bersama oleh beberapa institusi yang berkepentingan terhadap ancaman yang terjadi dunia teknologi informasi khususnya internet, seperti: Kejaksaan, Kepolisian, Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia, Dirjen Postel, dll.
2. ID-SIRTII berada di bawah Dirjen Postel.
3. ID-SIRTII tidak memiliki hubungan dengan ID-CERT. Adalah normal dalam satu negara memiliki lebih dari satu lembaga monitoring semacam SIRT atau CERT; faktor pembedanya adalah konstituen (stakeholder) dari lembaga2 tersebut.
Catatan: nama CERT adalah copy-right dari Carnegie Mellon University.
4. Misi utama dari ID-SIRTII adalah untuk meningkatkan pertumbuhan internet di Indonesia.
5. Saat ini ID-SIRTII masih berada pada stage I (development) dan akan memasuki stage II (implementasi).
6. Agar dapat melakukan pekerjaannya, ID-SIRTII akan mencatat seluruh log dari traffic internet (saat ini sudah dipasang sensor di sekitar 9 ISP di Indonesia). Adapun log yang dimaksud adalah IP pengirim, IP tujuan, protocol, port, dan time-stamp.
7. Meskipun ID-SIRTII menyatakan tidak akan membuka ”content” dari traffic tersebut, akan tetapi pada kenyataannya seluruh traffic dan isinya akan difilter dan dicatat.
Catatan: Hal ini terjadi karena secara teknis sulit (tidak mungkin?) untuk memilah-milah traffic itu sendiri. Adapun proses ekstraksi database ID-SIRTII meliputi proses ekstraksi untuk kepentingan internal Postel dan proses Peradilan, harus sesuai dengan prosedur. (http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=784)
Hal paling menarik dalam diskusi tersebut adalah isu penting mengenai integritas dari individu-individu yang akan berada di tim pelaksana ID-SIRTII tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa faktor manusia adalah ”the weakest link” di security dan ID-SIRTII adalah sebagai custodian log yang berisikan seluruh log traffic internet di Indonesia (yah, anggap saja begitu –meski mungkin ada juga pihak-pihak yang berkepentingan lain yang melakukan pencatatan sejenis tapi memilih untuk beroperasi secara diam-diam seperti kepolisian dan BIN). Apabila salah pilih orang dan proses pengendalian tidak dilakukan dengan benar, ada risiko bahwa data ”maha penting” itu jatuh ke tangan pihak2 yang punya maksud lain, misalnya untuk kepentingan politis. ID-SIRTII sendiri menginginkan dilakukannya audit secara teratur untuk memastikan confidentiality, integrity dan availability.
Sebagai kesimpulan, pada akhirnya pengguna internet harus menyadari sepenuhnya bahwa "there’s no such thing like confidentiality guarantee" begitu data/informasi telah keluar dari sistem kita dan dikirim melalui public network seperti internet. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa data/informasi yang kita kirimkan melalui public network tidak dapat dibaca oleh orang lain. Keberadaan ID-SIRTII tidak mengubah apapun dalam arti yang dilakukan olehnya dapat juga dilakukan oleh pihak lain seperti ISP ataupun Administrator Warnet. Sehingga pengguna internet harus mempergunakan proteksi (seperti enkripsi) untuk mengurangi risiko bahwa data/informasi yang ia kirimkan tidak dibaca oleh pihak lain yang tdak berhak.
Bulan Januari 2008 banyak banget liburnya, menggoda untuk mengkonversi
tampilan Windows XP SP2 yang membosankan di PC rumah yang saat ini jadi
host dual booting dengan Ubuntu Feisty Fawn. Sebenarnya ada beberapa
opsi:
Upgrade ke VISTA: negatif, ngga ada dana untuk upgrade hardware, weee ….
Ganti
ke Ubuntu: bakal repot menjelaskan ke istri dan anak2 karena koleksi
games mereka ngga bakal jalan di linux. Jadi opsi ini, NO.
Reinstall dengan XP Black Edition atau Leopard XP Glass yang
tampilannya ok: setelah berhitung waktu, gw males untuk reinstall games
dan recover GRUB untuk dual booting-nya. Juga update patch yang selama
ini konsisten. Belum lagi lisensi yang ngga jelas. Jadi opsi ini juga,
NO
Transform aja ke VISTA pakai
Vista Transformation Pack (VTP): kebetulan minggu lalu sempet beli buku
Windows XP XXX part 2 terbitan Jasakom yang didalamnya sekalian ada
CD-nya. Timbang repot2 download. Oya, FYI, lisensi ini VTP ini free ya
…. Jadi opsi ini yang paling feasible, jadi GO!
Pekerjaan pertama tentu backup dulu, just in case I did something stupid
Langkah-langkah (dilakukan sesuai petunjuk buku itu dan seluruh source sudah ada di dalam CD):
Install VTP
ini
akan mengubah total tampilan Luna Style milik XP menjadi Aero Style
milik Vista. Perlu restart sebelum melihat hasilnya. Even, splash
screen milik XP sudah berganti dengan VISTA. Great!
Install Glass2k
software
kecil free ini adalah pengganti Windows Blind yang berbayar. Tujuannya
untuk menampilkan efek transparant pada desktop. Sebelumnya, install
dulu VB6 runtimes.
Instalasi Windows Side Bar
menampilkan semacam gdesklet di linux. Banyak informasi yang dapat ditampilkan di dekstop, baik online atau internal system.
Instalasi Madotate
ini untuk menampilkan efek Flip 3D pada desktop.
Instalasi Desktop Search ala Vista
software yang dipakai adalah Copernic.
Nah, setelah langkah2 itu selesai, maka sim-salabim, jadilah tampilan desktop Anda menjadi VISTA wanna-be … hehehe.

CAVEAT:
Ada
harga yang harus Anda "bayar" untuk tampilan yang cantik, yakni
performance yang langsung drop. Apalagi kalo RAM Anda pas-pasan
Jadinya, gw terpaksa drop beberapa efek yang menurut gw ngga perlu.
Oya, spec PC saya: AMD Sempron 2800 dengan RAM 1GB. Harus cukup puas
dengan tampilan Aero dan Sidebar aja.
Hmmm, jadi kebayang betapa beratnya VISTA ya … ???
Ini tidak terjadi di BlankOn gw, heheh …
credit:
Buku Windows XP2 XXX, Eri Bowo, Jasakom
Ini lagu dari soundtrack GIE yang sampai sekarang bikin merinding … selain tentu "Donna-Donna"
chord-nya ambil di internet, males ah ngulik sendiri …
sok atuh, mangga di"genjreng" gitar-na
_____________________________
CaHaYa BuLaN
Intro: G5 D F/B G5
C
Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Dm G
Cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi?
*
F Em Dm C
Aku orang malam yang membicarakan terang
F Em Dm G C (Dm Em F)
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang
Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Cahaya nyali besar mencuat runtuhkan badai
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi?
F Em Dm C
Aku orang malam yang membicarakan terang
F Em Dm G F (G)
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang
**
C Dm Em F
Cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan
Em Am Dm G
Yang takkan pernah kutahu, di mana jawaban itu
C Dm Em F
Bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi
Em Am Dm G Am
Sudah waktunya berdiri, mencari jawaban kegelisahan hati
Interlude:
Am D7/F# F Em
Am D7/F# F G
C Dm Em Am
Terangi dengan cinta di gelapku
Dm G C
Ketakutan melumpuhkanku
C Dm Em Am
Terangi dengan cinta di sesatku
Dm G F G
Di mana jawaban itu?
**
Coda:
F Em Am G (2x)
C Dm Em F (2x)
C
<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>
Ah, makin hari rasanya makin ‘tergoda’
untuk mempercantik BlankOn yang sudah mantap nangkring di laptop
kesayangan. Beberapa “kejutan manis” dan “tantangan” telah
berhasil ditaklukkan, yakni:
<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>
Instalasi dan setup Innotek
Virtual Box OSE untuk “main-main” dengan distro lain.
Karena
sudah rada “berpengalaman” ketika di Feisty dulu, sudah lumayan
lancar. Tanpa kesulitan yang berarti VirtualBox sukses “nangkring”
di BlankOn.
link berikut amat membantu –>
http://ubuntu-tutorials.com/category/virtualization/
Ngga tau ya, belakangan ini lagi
naksir berat sama tampilan desktop MacOS. Karena itu, Gnome desktop
harus dipermak abis jadi mirip MacOS .. kalo ngga Tiger ya, Leopard
gituuu
Minimal ada docks-nya lah!
Setelah googling,
sepertinya AWN (Avant Window Navigator) lebih ok daripada pakai
gdesklets. Coba link berikut–>
http://www.ubuntugeek.com/howto-install-avant-window-navgator-in-ubuntu-gutsy-gibbon.html
Well. sepertinya BlankOn 2.0 Konde bakalan lama
nangkring di Asus gw.
Sudah cakep, gratis … Halal lagi